Classic

Ada di mana ya kayak giniaaan..?

Antara Kamu dan Perguruan Tinggi

Sebelumnya, ini bukan mau promosi perguruan tinggi, tapi tulisan ini mau nerjemahin dan ngambil esensi dari artikel di web MIT Admissions.

Kenapa? Karena esensi tulisan ini bagus untuk saya, nah dengan nge-post di blog saya berharap tulisan ini berguna untuk teman-teman yang lain :D

MIT is so inspiring.. And here we go..

Tim penyeleksi mahasiswa pernah bilang: Nilai dan indeks memang bukan segalanya.

Nilai dan indeks itu penting, tapi ini semata-mata adalah ‘kecocokan‘ antara pelamar dengan institusi tersebut. Nah, mengenai apa arti ‘kecocokan‘ itu sendiri, berikut ini adalah komponen-komponen pentingnya:

Bergabung dengan misi untuk membuat dunia yang lebih baik.


Ingatlah bahwa ada banyak caya untuk memperbaiki dunia—kita tidak harus menjadi orang yang sudah pernah membuat vaksin untuk semua penyakit di seluruh dunia pada umur 15 tahun. Atau mengajar seorang anak tentang Matematika, lantas bisa mengubah dunia. Atau melobi pemerintah untuk merubah undang-undang yang buruk, lantas juga mengubah dunia. Masih ada ribuan cara yang lain..

Berjiwa kolaboratif & kooperatif.


Dalam sebuah perguruan tinggi diperlukan jiwa kolaborasi dan kooperasi. Bahkan soal-soal ujian pun di desain untuk bekerja dalam sebuah atau beberapa kelompok. Riset antar-bidang, kemudahan akses informasi akademik, dan publikasi adalah bagian dari riset akademik yang biasanya sudah dikembangkan oleh perguruan tinggi terkemuka. Lingkungan yang kolaboratif adalah bagian yang penting dalam komunitas mahasiswa. Jadi, jika kamu lebih senang bekerja (benar-benar) sendirian, tak apa, tapi ada kemungkinan kita akan jadi kurang bahagia..

Inisiatif.


Proyek, baik riset atau yang menghasilkan uang, serta kuliah-kuliah yang menarik tidak dengan mudahnya diberikan kepada mahasiswa seperti hidangan. Banyak kesempatan yang bertebaran di perguruan tinggi, namun itu harus diraih. Mahasiswa yang berinisiatif dan mau mengambil kesempatan yang ada disekitarnya, akan tersokong oleh sumber-sumber yang telah disediakan oleh perguruan tinggi tersebut. Apalagi kalau lebih berminat untuk mempelajari lebih lanjut, perguruan tinggi yang lain juga bisa menyediakan informasi.

Berani ambil resiko.


Inovasi sangatlah rentan akan resiko. Jangan takut tangan kotor atau kesetrum dan cobalah sesuatu yang baru, yang seringkali menjadi cara terbaik untuk meraih sukses. Pengetahuan harus diaplikasikan ke dunia nyata. Dengan kata lain, kita tidak hanya berpikir, tapi kita harus doing (melakukan), dan harus kita nikmati itu..

Semangat yang konsisten, keingintahuan, dan kesenangan.


Atau dibuat lebih simpel dengan kata: “passion”. Kita harus terjun ke bidang yang benar-benar berarti untuk diri kita sendiri—kita menikmati untuk mempelajarinya. Lakukan eksplorasi! Pilihlah kualitas diatas kuantitas. Kita tidak harus melakukan sejuta tindakan di perguruan tinggi, cukup dengan menaruh semangat dan kecintaan pada hal-hal yang sangat kita pedulikan, rasanya itu cukup..

Kemampuan untuk memprioritaskan keseimbangan.


Work hard, play hard. Kita tidak hanya bekerja keras, tapi juga menghargai usaha kita sendiri.

Tidak ada profil yang sempurna—tidak peduli seberapa mengesankan orang itu.

Ada sebuah perguruan tinggi yang menggunakan  analogi (perumpamaan) seperti ini:

“Bagaikan memilih sebuah tim yang terdiri dari 1000 orang untuk mendaki sebuah gunung yang kasar dan menantang itu bersama-sama. Kami tentu saja menginginkan orang yang terlatih, berstamina, dan memiliki niat (passion) untuk mendaki. Di saat yang sama, kami akan membekali mereka dengan sesuatu yang berguna dan membangkitkan keingintahuan pada tim tersebut, yaitu yang dimulai dari sense of humor, hingga mendorong seseorang untuk memiliki pengalaman pribadi, yang akhirnya menjadikan sekelompok besar individu dengan bakat, talenta dan juga prestasi. Kami tidak mencari sekumpulan ‘pendaki’ sempurna yang identik; Kami mencari tim yang kaya akan variasi individu yang mampu untuk saling memberikan support, kejutan, dan inspirasi untuk sesama.”

Sumber: The Match Between You and MIT

Does a Girl really need Computer Games?

That is the question I hardly answer it. Yes it is. Saya lagi nabung untuk semacam 6 bulan ke depan, atau 7 bulan mungkin, demi a Personal Computer which is able enough to play a game like Assasin Creed or Witcher, and it’ll require me a lot money! Sure!

Saya kira nyisain uang dengan jumlah yang cukup untuk 110 liter bensin setiap bulan itu gampang, and I’m totally wrong! Susah ternyata. Dan sekarang saya bingung, apakah sebenernya saya butuh PC untuk gaming atau tidak. Saya jadi mikir-mikir, saya kan cewek, masa ngga pengen beli tas, atau sepatu, atau buku, atau yang lain yang more… girly?

Saya jadi bingung sebenernya saya itu cewek yang seperti apa yaaaa.. Saya sekarang lagi ngerasa, maybe I’m not a gamer anymore. And since there’s always many obstacles when I try to be a gamer, I think God even say NO. Haha. Tapi di sisi lain saya mikir, “Ah, itu alesan aja tuh mit supaya lo nggak usah nabung. Liat sepatu yang oke, langsung pengen beli.”

MySpace

Saya bingung banget…..

Okay, saya kepengen beli The Lost Symbol, pengen beli sepatu Otha yang warnanya grey dan modelnya ngga biasa itu menurut saya. Itu artinya saya harus kehilangan 60% tabungan saya bulan ini. Dan saya makin bingung aja nih, apakah saya harus beli kedua item itu, atau bertahan supaya saya tetep bisa nabung?

Masa sih gara-gara kepikiran itu saya jadi sakit begini? Ngga sih, kayaknya enggak. Huff.

Saya takut kalau akhirnya saya beli sepatu + novel itu, ternyata saya nyesel. Sementara kalau saya tetep nabung, saya kepikiran sama dua-benda-yang-menggoda itu. Haduh, Tuhan… bagaimana iniii??
MySpace

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.