Aku, Kucing Liar

Perkenalkan, aku kucing berbulu kuning kecoklatan dan berekor panjang. Oh ya, aku betina. Aku senang sekali makan ikan, apalagi kalau dari tangan manusia langsung, meski hasil dari mengais tong sampah pun tak apa.

Dulu, aku menemukan sebuah rumah yang seringĀ  kudatangi. Sebenarnya, pemilik rumah itulah yang mengajak saya. Ia sering memberiku ikan asin yang baru saja matang. Senang sekali rasanya. Aku jadi makin sering datang ke rumah itu.

Tapi, kadang ia menjadi manusia yang aneh, tiba-tiba membentakku dan mengusirku jauh-jauh. Kala itu aku tak punya tempat lain untuk berteduh. Aku terlanjur ogah untuk kembali ke tong sampah. Maka, aku hanya bisa mengeong lemah dan bersembunyi. Rumah itu terlanjur memberiku segalanya, meski aku sering disakiti.

Sering aku berpikir untuk pergi, tapi berat rasanya meninggalkan ikan asin yang selalu tersedia setiap harinya untukku. Ya, setelah amarah pemilik rumah itu reda, ia menjadi baik dan mengelusku dengan sayang.

Lama sekali aku tinggal, meski aku tidak boleh masuk ke dalam rumah, aku tetap setia. Meski amarah si pemilik sering menyakitiku, aku tetap mencoba bertahan. Dengan mata yang berbinar aku selalu mengharap ikan asin lagi.

Hingga suatu saat, tiba-tiba si pemilik menyulutkan rokok ke bulu-buluku. Aku kaget sekali, ini perlakuan manusia yang paling aku tidak suka. Aku benci itu. Aku tidak suka. Aku harus bertindak, aku harus berontak! Seketika itu pula aku berlari menjauh dari rumah itu. Keempat kakiku lelah dan akhirnya aku harus kembali ke tong sampah lagi. Namun, aku berniat menyusuri jalanan saja, mencari tempat baru.

Selama perjalanan aku bertemu dengan kucing-kucing liar yang lain. Aku senang meski harus berebut makanan. Tapi itu tidak lama. Suatu hari hujan lebat dan aku terpisah dari mereka, aku berlari tak tentu arah karena malam itu gelap sekali.

Akhirnya aku tak sengaja melompati pagar sebuah rumah. Rumah yang ini biasa saja, tak sebagus yang dulu pernah kutinggali. Rumah ini sederhana. Tak apa, aku hanya butuh terasnya untukku berteduh. Bulu-buluku basah semua.

Keluarlah si pemilik rumah, ia memandangiku dan aku balas memandangnya dengan mata kelerengku. Pintu rumah lalu menutup keras. Sudahlah, setelah hujan reda aku akan pergi, pikirku. Tapi ternyata pemilik rumah itu memberiku semangkuk susu hangat. Senangnya…

Hujan pun reda, si pemilik rumah duduk di teras sambil menerawang ke langit. Entah mengapa, pemilik rumah berbicara sendiri. Atau mungkin berbicara padaku, padahal aku hanya kucing. Aku tak pernah mengerti apa kata-katanya, tapi suaranya membuatku nyaman.

Esoknya aku tidak diusir, malah aku diberi roti, sepotong roti kecil. Berbeda rasanya dengan ikan yang lezat, tapi tak apa, tak tau mengapa rumah ini mendadak tak ingin ku tinggalkan.

Pemilik rumah itu sering keluar rumah. Ku lihat ia membawa kotak-kotak tebal dan pulang saat malam datang. Aku sering menunggunya. Dan ia tak lupa memberiku semangkuk susu hangat.

Terkadang aku merindukan rumah yang sering memberiku ikan asin yang baru matang itu. Kadang aku juga lelah menunggu pemilik rumah sederhana ini untuk pulang… Biarlah, aku merasa aku harus tetap tinggal. Aku merasa aku tidak sepatutnya pergi. Aku masih ingin berada di teras rumah ini saat si pemilik rumah berbicara sendiri. Aku masih ingin mendengar suaranya…

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.