Being Melancholic
02 Jun 2010 Leave a Comment
Hahaha, kedengarannya pas banget.
Sudahlah, post ini bukan saya mengharap untuk dimengerti orang..
Tapi saya menjadi sering melankolis sekarang..
Nggak ngerti juga kenapa…
Dan parahnya, rasanya omongan orang lain itu sulit saya adaptasi.
Nggak ngerti juga kenapa…
Mungkin harus ada kata baru, yang setingkat lebih tinggi dari kata ‘bosan’
Yeah, tapi apa ya?
Kalau mau mikir begini: “Oh jadi ini ya yang dulu pernah saya lakukan ke orang lain, saya terima balasannya sekarang..”
Err, rasanya apa nggak membuat kita jalan di tempat ya..
Iya sih, saya ngerasa kok… Tapi setelah itu gimana dong? Menyesal?
Baik, saya katakan saya menyesal..
Then? Apa dong?
Sorry banget kalau ada yang emosi membaca ini..
Maaf sekali, kawan..
Huff dan rasanya makin ga ada gunanya gw menulis begini.
Sial.
Jadi magic-nya sudah berakhir nampaknya!
Skarang sudah tidak ada perkataan-perkataan mencerahkan..
Yang ada hanya kesalahpahaman..
Sudahlah.. (berulang kali saya ingin memajang status seperti ini, atau malah lebih melankolis lagi, tapi saya urungkan.. Karna di facebook ada banyak orang dan saya sepantasnya menjaga image saya di depan mereka, saya tidak ingin terlihat labil, meskipun memang iya)
Yeah, saya baru sadar, keajaiban sudah berakhir, mit!
Sekarang sudah tersingkap bagaimana kehidupan sebenarnya..
Dulu saya bikin tulisan, supaya ada orang tau, apa sebenernya yang rasakan, dan berharap ada yang mengerti..
Tapi nampaknya itu cuma harapan percuma doang..
Pergi sana harapan! Hush hush!
Dan memang tidur itu lebih baik, karena saya ga harus lihat bagaimana kehidupan yang nyata..
Dan yang baik-baik itu belum tentu sesuai keinginan seseorang, yeah benar sekali itu. Orang-orang mungkin ingin yang baik dan bagus saja… Menjadi baik dan bagus itu berarti akan memenuhi keinginan semua orang.
Ternyata tidak ya, orang ternyata punya ‘mau’ yang beda-beda.
Aduh apa sih yang gw tulis? Nggak jelas.
Saya berharap saya adalah orang yang berpikiran SIMPEL sehingga tulisan semacam ini tidak akan terulang lagi.
HUH.
Yang nyumbang opini: